Pemesanan Pupuk

Elsa Rosyidah

085655567971
081233363625
0341-5490666
ElsaRosyidah@gmail.com

September 2010
M T W T F S S
« Jul    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Archive for the ‘pupuk’ Category

Fertilizers are soil amendments applied to promote plant growth; the main nutrients present in fertilizer are nitrogen, phosphorus, and potassium (the ‘macronutrients’) and other nutrients (‘micronutrients’) are added in smaller amounts. Fertilizers are usually directly applied to soil, and also sprayed on leaves (‘foliar feeding’).

Fertilizers are roughly broken up between organic and inorganic fertilizer, with the main difference between the two being sourcing, and not necessarily differences in nutrient content.

Organic fertilizers and some mined inorganic fertilizers have been used for many centuries, whereas chemically synthesized inorganic fertilizers were only widely developed during the industrial revolution. Increased understanding and use of fertilizers were important parts of the pre-industrial British Agricultural Revolution and the industrial green revolution of the 20th century.
Tennessee Valley Authority: “Results of Fertilizer” demonstration 1942
Further information: Plant nutrition
See also: Soil pH

Fertilizers typically provide, in varying proportions:

* the three primary macronutrients: nitrogen (N), phosphorus (P), and potassium (K).
* the three secondary macronutrients: calcium (Ca), sulfur (S), magnesium (Mg).
* and the micronutrients or trace minerals: boron (B), chlorine (Cl), manganese (Mn), iron (Fe), zinc (Zn), copper (Cu), molybdenum (Mo) and selenium (Se).

The macronutrients are consumed in larger quantities and are present in plant tissue in quantities from 0.2% to 4.0% (on a dry matter weight basis). Micronutrients are consumed in smaller quantities and are present in plant tissue in quantities measured in parts per million (ppm), ranging from 5 to 200 ppm, or less than 0.02% dry weight

Pupuk kandang ialah zat organik yang digunakan sebagai pupuk organik dalam pertanian. Pupuk kandang berperan dalam kesuburan tanah dengan menambahkan zat dan nutrien, seperti nitrogen yang ditangkap bakteri dalam tanah. Organisme yang lebih tinggi kemudian hidup dari jamur dan bakteri dalam rantai kehidupan yang membantu jaring makanan tanah.

Dalam pengelolaan tanah, pupuk kandang dapat dikelompokkan menjadi 3 macam, yakni pupuk hewan, kompos, dan pupuk hijau.

Organic farming is the form of agriculture that relies on techniques such as crop rotation, green manure, compost, biological pest control, and mechanical cultivation to maintain soil productivity and control pests on a farm. Organic farming excludes or strictly limits the use of synthetic fertilizers and synthetic pesticides, plant growth regulators, livestock antibiotics, food additives, and genetically modified organisms.[1]

Organic agricultural methods are internationally regulated and legally enforced by many nations, based in large part on the standards set by the International Federation of Organic Agriculture Movements (IFOAM), an international umbrella organization for organic organizations established in 1972. IFOAM defines the overarching goal of organic farming as follows:

“Organic agriculture is a production system that sustains the health of soils, ecosystems and people. It relies on ecological processes, biodiversity and cycles adapted to local conditions, rather than the use of inputs with adverse effects. Organic agriculture combines tradition, innovation and science to benefit the shared environment and promote fair relationships and a good quality of life for all involved..”
—International Federation of Organic Agriculture Movements[2]

Since 1990, the market for organic products has grown at a rapid pace, to reach $46 billion in 2007. This demand has driven a similar increase in organically managed farmland. Approximately 32.2 million hectares worldwide are now farmed organically, representing approximately 0.8 percent of total world farmland.[3] In addition, as of 2007 organic wild products are harvested on approximately 30 million hectares

Bokashi adalah sebuah metode pengomposan yang dapat menggunakan starter aerobik maupun anaerobik untuk mengkomposkan bahan organik, yang biasanya berupa campuran molasses, air, starter mikroorganisme, dan sekam padi. Kompos yang sudah jadi dapat digunakan sebagian untuk proses pengomposan berikutnya, sehingga proses ini dapat diulang dengan cara yang lebih efisien. Starter yang digunakan amat bervariasi, dapat diinokulasikan dari material sederhana seperti kotoran hewan, jamur, spora jamur, cacing, ragi, acar, sake, miso, natto, anggur, bahkan bir, sepanjang material tersebut mengandung organisme yang mampu melakukan proses pengomposan.

Dalam proses pengomposan di tingkat rumah tangga, sampah dapur umumnya menjadi material yang dikomposkan, bersama dengan starter dan bahan tambahan yang menjadi pembawa starter seperti sekam padi, sisa gergaji kayu, ataupun kulit gandum dan batang jagung (Yusuf, 2000). Mikroorganisme starter umumnya berupa bakteri asam laktat, ragi, atau bakteri fototrofik yang bekerja dalam komunitas bakteri, memfermentasikan sampah dapur dan mempercepat pembusukan materi organik.

Umumnya pengomposan berlangsung selama 10-14 hari. Kompos yang dihasilkan akan terlihat berbeda dengan kompos pada umumnya; kompos bokashi akan terlihat hampir sama dengan sampah aslinya namun lebih pucat. Pembusukan akan terjadi segera setelah pupuk kompos ditempatkan di dalam tanah. Pengomposan bokashi hanya berperan sebagai pemercepat proses pembusukan sebelum material organik diberikan ke alam.

Pupuk Bokashi, menurut Wididana et al (1996) dapat memperbaiki sifat fisika, kimia, dan biologi tanah, meningkatkan produksi tanaman dan menjaga kestabilan produksi tanaman, serta menghasilkan kualitas dan kuantitas hasil pertanian yang berwawasan lingkungan. Pupuk bokashi tidak meningkatkan unsur hara tanah, namun hanya memperbaiki sifat fisika, kimia, dan biologi tanah, sehingga pupuk anorganik masih diperlukan (Cahyani, 2003). Pupuk bokashi, seperti pupuk kompos lainnya, dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kandungan material organik pada tanah yang keras seperti tanah podzolik sehingga dapat meningkatkan aerasi tanah dan mengurangi bulk density tanah (Susilawati, 2000, dan Cahyani, 2003). Berdasarkan hasil penelitian Cahyani (2003), Penambahan pupuk bokashi berbahan dasar arang sekam padi dapat meningkatkan nilai batas cair dan batas plastis tanah latosol, namun terjadi peningkatan indeks plastisitas. Penambahan bokashi arang sekam padi juga berpengaruh terhadap kekuatan geser tanah dan peningkatan tinggi maksimum tanaman. Bokashi juga dapat digunakan untuk mengurangi kelengketan tanah terhadap alat dan mesin bajak sehingga dapat meningkatkan performa alat dan mesin bajak.